Sabtu, 09 Mei 2015

Ketika berbicara tentang pesantren, sebagian besar orang beranggapan bahwa pesantren adalah tempat yang kejam, tempat yang tidak menjamin kelayakan hidup seseorang, dan persepsi-persepsi lain yang bahkan lebih parah dari apa yang telah saya sebutkan di atas. Saya berkata demikian karena saya punya pengalaman sendiri akan hal itu. Pengalamannya sih berasal dari orangtua saya. Ketika orangtua saya memutuskan untuk menitipkan anaknya di pesantren (mulai dari kakak, saya, dan adik saya), banyak masyarakat yang justru beranggapan bahwa orangtua saya tidak sayang sama anak-anaknya karena merelakan anaknya untuk tinggal di pesantren. Sebenarnya entah apa yang mendasari masyarakat di sekitar berbicara demikian, padahal untuk melihat dan merasakan kondisi pesantren pun, mungkin mereka tidak pernah. Tetapi orangtua saya tidak goyah dengan kicauan tetangga di luar sana. Orangtua saya justru semakin bersemangat untuk mengantarkan anaknya dan menitipkannya di pihak pesantren. Orangtua saya adalah tipe orangtua yang sangat memperhatikan pendidikan anaknya, khususnya untuk pendidikan agama. Keduanya sangat khawatir melihat perkembangan zaman yang semakin jauh dari moral ini. Maka, agar anak-anaknya terhindar dari kenakalan remaja yang marak diperbincangkan publik, menurutnya pesantren adalah solusi yang tepat. Setidaknya, untuk menghadapi zaman yang seperti ini, anak-anaknya punya pondasi agama yang kuat sehingga tidak mudah terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan. Meskipun demikian, orangtua saya tidak pernah lepas tangan dari tanggung jawabnya sebagai orangtua. Ketika anak-anaknya sedang berlibur dan berada di rumah, mereka selalu meminta kami untuk berdiskusi tentang ilmu yang telah didapat dari pesantren dan di dalam diskusi itu orangtua saya justru menyelipkan nasihat dan himbauan yang menjadi ketakutannya. Nah, itu tadi sekilas tentang pengalaman orangtua saya yang berjuang untuk mempertahankan aqidah dalam diri anaknya. Sekarang yuk cuss kita cerita tentang pengalaman pribadi saya di pesantren.... 

Saya mulai tinggal di pesantren sejak saya mulai masuk SMP, tepatnya pada tahun 2007. Saya masih ingat, dulu hari Senin tanggal 14 Juli 2007 adalah hari pertama masuk sekolah. Sebelum hari itu tiba, orangtua saya sudah mengantar saya ke pesantren, biar tidak terlalu terburu-buru dan bisa rapih-rapih dulu di kamar, katanya. Tiba di pesantren, saya disambut oleh Pimpinan Pesantren denga sangat ramah dan segeralah orangtua saya menyampaikan niatnya pada Pimpinan. Degdegan, takut, dan tidak sabar untuk tinggal di pesantren pun menjadi perasaan yang ada dalam diri saya pada waktu itu. Setelah pembicaraan antara mereka selesai, diantarlah saya ke pesantren dan langsung menuju kamar yang akan menjadi tempat tinggal saya selama bersekolah disana. Sesampainya di kamar, saya disambut oleh para pengurus dengan sangat ramahnya, mereka membantu saya dan orangtua saya membawa barang-barang saya ke kamar. Tiba di kamar, tanpa ragu lagi orangtua saya langsung mengeluarkan barang-barang bawaan saya untuk dibereskan ke dalam lemari, saya pun langsung membantunya. Setelah selesai membereskan barang-barang, segeralah orangtua saya berpamitan untuk pulang dan mulai hari itu saya sepenuhnya menjadi tanggungjawab pesantren. Kebayang dong gimana sedihnya saya saat itu? Sedih harus berpisah dengan orangtua yang biasanya tiap hari saya ngeliat mukanya, tapi sekarang saya harus sudah terbiasa dengan hal baru yang lebih menantang. Satu per satu teman baru saya pun mulai berdatangan didampingi orangtuanya dan tibalah malam hari, semua santri baru telah berkumpul dan orangtua sudah pulang. 

Hari pertama masuk sekolah pun tiba, aktivitas di pesantren mulai berjalan seiring waktu masuk sekolah. Sebelum subuh, saya sudah dibangunkan oleh kaka kelas yang menjadi ketua kamar saya waktu itu. "Bangun dik, di kamar mandi sudah banyak orang yang mengantri untuk mandi, nanti kamu kesiangan loh." sapanya dengan lembut. Sontak saya pun langsung terbangun dan menuju kamar mandi, dan ternyata benar sudah banyak orang yang mengantri di depan pintu kamar mandi. Kaget, itu yang pertama saya rasakan ketika sebelum subuh tiba tepatnya sekitar jam 3an kamar mandi sudah dipenuhi para santri. Dengan mata yang masih mengantuk, dan sesekali tertidur sambil menunggu antrian, saya berdiri dengan santri yang lain sampai saya mendapatkan giliran untuk mandi. Setelah saya selesai mandi dan langsung mengambil air wudhu, adzan subuh pun berkumandang. Aneh rasanya, biasanya saat adzan subuh berkumandang saya masih terlelap tidur, dan sekarang saya sudah mandi, bahkan bersiap untuk solat subuh berjama'ah. 

Yaa, seluruh santri memang diwajibkan untuk selalu solat berjama'ah di setiap waktu sholat. Saya pun bergegas ke mushola bersama ketua kamar dan teman kamar saya yang lainnya. Saat sholat subuh berjama'ah dilakukan dengan dipimpin oleh Ibu Ajengan (panggilan untuk istri seorang pimpinan pesantren), tiba-tiba air mata saya jatuh sedikit demi sedikit, hingga menjadi tangisan yang semakin deras pada saat sholat telah usai. Entah apa yang menjadi penyebab dari tangisan ini. Padahal, saya sudah sangat enjoy dengan situasi di pesantren itu. Tangisan saya ternyata tidak juga berhenti sampai tiba waktunya untuk MOS (Masa Orientasi Siswa) di sekolah, dan mata saya masih dihujani tangisan. Saya bingung harus gimana, dan akhirnya saya memutuskan untuk menelpon ayah saya (kebetulan pesantren memperbolehkan santrinya untuk membawa handphone, mungkin karena masih baru) dengan mata yang masih basah. Ketika oranglain sudah berangkat ke sekolah, saya masih menangis dan menelpon ayah saya, sehingga Ibu Ajengan datang dan menegur saya untuk segera berangkat ke sekolah. Saya pun segera menghentikan pembicaraan dengan ayah saya di telepon dan langsung bergegas menuju sekolah yang letaknya sangat dekat dengan pesantren. 

Kegiatan MOS pun dimulai dengan upacara dan sambutan dari seluruh staff pengajar dan para pengurus OSIS di sekolah itu. Setelah upacara selesai dan para siswa baru diajak untuk ke ruang kelas, tiba-tiba saya mendengar "Nia Kurniawati", nama saya dipanggil oleh salah seorang guru dengan menggunakan microphone. Saya kaget dan langsung bertanya pada kakak kelas sekaligus kakak saya di kamar (Syifa namanya) kenapa nama saya dipanggil dan Teh Syifa bersedia mengantarkan saya ke pusat suara yang memanggil saya. Ternyata, ada kakak sepupu saya yang datang ke sekolah untuk menjenguk saya dan melihat keadaan saya karena mungkin ayah saya memberitahunya bahwa saya nangis. Hehe. Kocak nggak tuh, baru 2 hari tinggal di pesantren udah ada yang jenguk aja. Kegiatan MOS berlangsung selama satu minggu dan saya pun mengikutinya dengan sangat senang. 

Hari-hari pun berlalu dan saya sudah sangat betah tinggal di pesantren bahkan tidak ada sedikit pun keinginan untuk pulang ke rumah. Memang banyak sekali peraturan yang diterapkan di pesantren itu, mulai dari wajib sholat berjama'ah setiap waktu, mengkaji kitab di setiap waktu, dan diberikan hukuman bagi setiap santri yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Pada tahun awal, saya bisa dibilang sebagai santri teladan, selalu sholat berjama'ah tepat waktu, mengaji tidak pernah ketinggalan bahkan saya sempat dimusuhi oleh teman-teman saya karena saya terlalu rajin untuk mengaji. Pokoknya, saya paling anti deh kena hukuman dari pihak pesantren. Hehe sombong dikit gapapa kali :p 
Eh iya, yang paling bikin saya nyaman tinggal di pesantren adalah kebersamaannya loh. Waktu makan, sepiring bisa berdua bahkan sampai satu kamar yang isinya 5-7 orang makan dalam satu piring yang sama. Seru kan? Setiap satu piring habis, kami pun bergantian untuk mengambil jatah makanan kami dan dimakan bersama-sama. Seru binggow deh pokoknya. Keseruan ini nggaakan bisa didapetin kalo kalian nggak tinggal di pesantren!!!! 

Naaahh, ceritanya dipersingkat langsung ke kelas 3 SMP aja yaa.. 
Kelas 3 SMP, saya mulai deh tuh akrab sama yang namanya hukuman. Yaa namanya juga ABG labil, pengen banget nyobain banyak hal. Karena waktu kelas 1 dan kelas 2 SMP saya sudah menjadi santri teladan, kelas 3 mulai bandel dikit gapapa kali yaa. Hehehe. Di kelas 3 ini saya dan teman-teman angkatan saya yang lainnya sangat kompak, kemana-mana selalu bersama, bahkan bolos ngaji pun bersamaan loh. Hahahaha, seru deh pokoknya...
Sampe sini dulu aja kali ya ceritanya, mata udah lelah banget itu kayaknya baca cerita. Pokoknya, yang bilang pesantren itu tempat yang kuno dan nggak mengasyikkan, itu karena mereka belum pernah meraskan tinggal di pesantren. Jadi, buat kalian yang masih bingung mau apa nggak tinggal di pesantren, coba dipikirin lagi yaa.. 
Menurut kalian, gimana ceritanya? Garing ya? Hahahaha.. Makasih ya udah mau baca cerita saya. Sampai bertemu kembali di tulisan saya berikutnya yaaaa... 


^_^ 
Salam Manis dari Penulis